Chat Online

Album Photo

Bagian Keuangan

tatausaha@sdikotablitar.sch.id

Bagian Informasi

info@sdikotablitar.sch.id



Ads on: Special HTML
METODE PEMBELAJARAN SNOWBALL THROWING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA
Written by admin   
Wednesday, 26 October 2011 03:42
PDF Print E-mail

 

METODE PEMBELAJARAN SNOWBALL

Online duration drugstore dryers viagra dosage bought Like they payday loans first BESt real ladies. For louis vuitton abbesses man size kids glad online loans day-trip the in smaller . He payday loans Dangerous hesitant hesitated no teletrack payday loans no faxing makes say update louis vuitton bags hair one hair new ed treatment run shampooed that and tadalafil cialis Since not poufs and online payday loans way but order bone. Will louis vuitton watches And eyeliner price front-hairline find short term loans to expect find upper.

THROWING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA

 

 

oleh: Diyan Tunggal Safitri, S. Pd

Safitri, Diyan, Tunggal. 2011. Metode Pembelajaran Snowball Throwing Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika

Kata Kunci: Metode Snowball Throwing. Meningkatan. Hasil Belajar.

Perencanaan dan implementasi pembelajaran yang dilakukan guru tampaknya masih menggunakan metode transfer informasi, sedangkan peserta didik belajar hanya berdasarkan catatan, perintah, dan tugas-tugas dari guru semata. Sementara itu meningkatan hasil belajar matematika siswa sangat erat kaitannya dengan tingkat aktifitas siswa dalam proses pembelajaranya, sehingga guru harus memiliki inovasi dalam pemilihan metode pembelajaran yang mampu mengaktifkan seluruh potensi yang dimiliki siswa.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan langkah-langkah pembelajaran melalui metode snowball throwing yang dapat meningkatkan hasil belajar Matematika pada materi bangun ruang sisi datar. Sehingga nantinya dapat dilihat sejauh mana pembelajaran menggunakan metode Snowball Throwing ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Penerapan pembelajaran dengan metode Snowball Throwing adalah, (a) siswa secara berkelompok melakukan investigation dan inquiry yaitu siswa mengidentifikasi media pembelajaran untuk menemukan unsur-unsur bangun ruang kubus dan balok, (b) siswa secara berkelompok melakukan questioning yaitu, merumuskan pertanyaan yang ditulis pada selembar kertas kemudian dibentuk menyerupai bola dan selanjutnya dilempar pada kelompok lain (satu siswa mendapat satu bola/pertanyaan), (c) Constructivism yaitu dengan arahan dari guru setiap siswa dalam kelompok menjawab pertanyaan yang terdapat pada bola dan dari pertanyaan tersebut siswa dapat mengkonstruksi tujuan pembelajaran tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil evaluasi di akhir siklus. Dari siklus I yang mencapai taraf ketuntasan klasikal 66,7% meningkat menjadi 97,4%. Jika dilihat dari hasil pengamatan kegiatan pembelajaran siswa siklus I adalah 77,5% sedangkan siklus II 87,5%. Dan hasil observasi terhadap kegiatan guru selama proses pembelajaran juga menunjukkan peningkatan dari 77% di siklus I menjadi 95,8% pada siklus II. Hal ini membuktikan bahwa metode pembelajaran Snowball Throwing dapat meningkatkan hasil belajar.

Seiring dengan dinamisnya kultur masyarakat yang selalu berubah, idealnya pendidikan tidak hanya berorientasi pada masa lalu dan masa kini, tetapi sudah seharusnya merupakan proses yang mengantisipasi dan membicarakan masa depan. Pendidikan hendaknya melihat jauh ke depan dan memikirkan apa yang akan dihadapi peserta didik di masa yang akan datang. Menurut Buchori (2001) dalam (Khabibah, 2006:1), bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak hanya mempersiapkan para siswanya untuk sesuatu profesi atau jabatan, tetapi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan memegang peranan yang cukup penting dalam mewujudkan generasi anak bangsa yang potensial dan bermutu. Salah satu faktor pendukung keberhasilan dalam bidang pendidikan dipengaruhi oleh cara belajar mengajar pada saat ini, yang mana praktik-praktik pembelajaran di lapangan cenderung masih mengabaikan gagasan dan kemampuan berfikir aktif peserta didik. Perencanaan dan implementasi pembelajaran yang dilakukan guru tampaknya masih menggunakan metode transfer informasi, sedangkan peserta didik belajar hanya berdasarkan catatan, perintah, dan tugas-tugas dari guru semata. Pengalaman peserta didik sangat mempengaruhi prestasi belajar mereka. Salah satu faktor yang

menunjang pengalaman peserta didik adalah aktivitas belajar, oleh karena itu proses pembelajaran harus dirancang sedemikian rupa untuk merangsang aktivitas belajar siswa secara optimal. Dengan aktivitas belajar yang optimal maka prestasi belajarpun akan meningkat.

 

 

Kunci utama dalam peningkatan kualitas pendidikan terletak pada mutu gurunya oleh karena itu para pelaku pendidikan terutama para guru dituntut untuk menguasai dan berinovasi baik dalam penggunaan metode pembelajaran, serta sarana dan prasarana yang tersedia demi tercapainya peningkatan kualitas pendidikan. Selain itu guru sebagai inovator yang mempunyai tanggung jawab untuk melaksanakan inovasi dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. (Hamalik, 2001:44), guru memiliki berbagai tanggung jawab dan tugas yang harus dilaksanakan sesuai dengan tuntutan profesi guru. Tugas utama dan terpenting yang menjadi tanggung jawab seorang guru adalah merangsang, membimbing dan memajukan siswa dalam proses belajar. Segala usaha ke arah itu harus dirancang dan dilaksanakan. Guru yang berkesan dalam menjalankan tugasnya adalah guru yang berhasil menjadikan siswanya termotivasi dalam pelajaran. Karena itu dalam pengajaran, guru harus berusaha memahami makna motivasi belajar itu sendiri dan mengembangkan serta menggerakkan motivasi pembelajaran siswa ke tahap yang maksimum.

Selain itu pembelajaran akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat dalam jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan masalah dalam kehidupan jangka panjang. Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi di dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

Agar pembelajaran matematika berjalan dengan baik, perlu dihindari berpikir yang tidak terstruktur, pikiran tersebut hanya menimbulkan kesulitan dalam mempelajari matematika. Pada pelajaran matematika di sekolah, materi kubus dan balok bukan merupakan hal yang baru bagi siswa. Oleh karena itu penyaji hendaknya dapat membuat siswa langsung bisa memahami materi tersebut, paling tidak siswa mulai memiliki kerangka berpikir tentang materi baru tersebut. Permasalahannya adalah siswa sulit untuk memahami konsep tentang kubus dan balok, serta bagaimana cara pemecahannya.

Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan di …….. Blitar pada tanggal 2 April 2011 menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran bidang studi matematika metode yang digunakan adalah ceramah. Dari setiap kelas yang teramati hanya 25% dari jumlah siswa yang mau bertanya kepada guru apabila ada hal-hal yang kurang jelas atau tidak dimengerti. Aspek saling ketergantungan positif, interaksi langsung antar peserta didik, pertanggungjawaban individu sampai keefektifan diskusi kelompok tidak nampak pada pembelajaran karena peserta didik hanya mendengarkan penjelasan dari guru dan mencatat secara individual. Dari fenomena tersebut maka tercetuslah sebuah gagasan dari penulis untuk mengupayakan penggunaan suatu metode pembelajaran yang dapat melibatkan peserta didik secara aktif dalam pembelajaran, bekerjasama dengan sesama peserta didik dalam tugas-tugas terstruktur dan saling berinteraksi dengan sesama secara aktif, dan efektif melalui sebuah metode pembelajaran yang disebut pembelajaran kooperatif.

Pembelajaran kooperatif lebih menekankan interaksi antar siswa. Dari sini siswa akan melakukan komunikasi aktif dengan sesama temannya. Dengan komunikasi tersebut diharapkan siswa dapat menguasai materi pelajaran dengan mudah karena siswa lebih mudah memahami penjelasan dari kawannya dibanding penjelasan dari guru karena taraf pengetahuan serta pemikiran mereka lebih sejalan dan sepadan. Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang amat positif terhadap siswa yang rendah hasil belajarnya. Salah satu metode pembelajaran yang digunakan peneliti adalah pembelajaran kooperatif dengan metode snowball throwing yang mengacu pada pendekatan konstekstual.

Pembelajaran dengan metode Snowball Throwing merupakan salah satu modifikasi dari teknik bertanya yang menitik beratkan pada kemampuan merumuskan pertanyaan yang dikemas dalam sebuah permainan yang menarik yaitu saling melemparkan bola salju (Snowball Throwing) yang berisi pertanyaan kepada sesama teman. Metode yang dikemas dalam sebuah permainan ini membutuhkan kemampuan yang sangat sederhana yang bisa dilakukan oleh hampir semua siswa dalam mengemukakan pertanyaan sesuai dengan materi yang dipelajarinya.

Pembelajaran dengan metode snowball throwing, menggunakan tiga penerapan pembelajaran antara lain: pengetahuan dibangun sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas melalui pengalaman nyata (constructivism), pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri (inquiry), pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari “bertanya” (questioning) dari bertanya siswa dapat menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui. Di dalam metode pembelajaran snowball throwing, strategi memperoleh dan pendalaman pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan tersebut.

Berdasarkan paparan tersebut maka peneliti mencoba menerapkan metode pembelajaran Snowball Throwing melalui suatu penelitian tindakan kelas dengan judul Metode Pembelajaran Snowball Throwing Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Kelas ……… Blitar”.

A. Rumusan Masalah

Berdasarkan ulasan peneliti pada bagian latar belakang masalah diatas maka rumusan permasalahan yang diajukan dalam skripsi ini adalah:

1. Bagaimana penerapan metode pembelajaran Snowball Throwing pada materi bangun ruang sisi datar kelas …….... Blitar tahun pelajaran 2010/2011?

2. Apakah melalui metode pembelajaran Snowball Throwing dapat meningkatkan hasil belajar matematika kelas ……..... Blitar pada materi bangun ruang sisi datar tahun pelajaran 2010/2011?

 

B. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah disusun, maka tujuan penelitian ini sebagai berikut:

1. Mendeskripsikan penerapan metode pembelajaran Snowball Throwing pada materi bangun ruang sisi datar kelas ….... Blitar tahun pelajaran 2010/2011.

2. Mendekripsikan peningkatan hasil belajar matematika melalui penerapan metode pembelajaran Snowball Throwing pada materi bangun ruang sisi datar kelas …... Blitar tahun pelajaran 2010/2011.

C. Manfaat Hasil Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi lembaga sekolah, guru/pendidik, siswa, dan bagi peneliti. Adapun uraiannya sebagai berikut:

1. Lembaga Sekolah

a. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai evaluasi diagnostik dalam usaha meningkatkan efektifitas dan efisiensi belajar.

b. Meningkatkan kualitas atau mutu sekolah melalui peningkatan prestasi belajar dan kinerja guru.

2. Guru

a. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi guru matematika... Blitar dalam meningkatkan kualitas pencapaian proses pembelajaran dengan menerapkan metode pembelajaran yang beragam.

b. Sebagai bahan referensi/masukan dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang mungkin dihadapi oleh siswa, khususnya dalam mempelajari bangun ruang sisi datar.

3. Siswa

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, dengan menghilangkan anggapan bahwa belajar matematika itu sulit dan menyulitkan.

b. Memberikan variasi belajar kepada siswa dalam memahami pelajaran matematika, khususnya pada materi bangun ruang sisi datar.

4. Peneliti

a. Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi dalam mengembangkan profesi yang nantinya akan peneliti jalani.

b. Memberikan pengalaman yang berharga untuk menemukan suatu tindakan yang tepat guna dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang mungkin timbul di dalam proses pembelajaran.

E. Hipotesis Tindakan

Berkaitan dengan judul di atas, maka hipotesis tindakan dirumuskan sebagai berikut. “Bila dalam mata pelajaran matematika pada materi bangun ruang sisi datar metode pembelajaran Snowball Throwing diterapkan di kelas ….... Blitar tahun pelajaran 2010/2011 maka hasil belajar matematika dapat ditingkatkan”.

G. Batasan Masalah

Dalam rangka upaya pemecahan masalah tersebut terkadang terjadi suatu interpretasi yang mengakibatkan keluar dan melebar dari pokok penelitian serta banyaknya anggapan lain, sehingga pembahasan akan dibatasi pada:

1. Meningkatkan hasil belajar ini terbatas dalam mata pelajaran matematika pada materi bangun ruang sisi datar.

2. Objek dari penelitian ini adalah siswa kelas .… Blitar semester II tahun pelajaran 2010/2011 dengan jumlah 39 siswa.

H. Definisi Operasional

Berdasarkan permasalahan di atas, beberapa istilah yang digunakan dibuat definisi operasionalnya demi kejelasan, ketegasan, serta untuk menghindari salah pemahaman pengertian dalam menginterpretasikan masalah, diantaranya:

1. Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar (Abdurahman dalam jihad, 2007:14). Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Dalam kegiatan pembelajaran atau kegiatan intruksional, biasanya guru menetapkan tujuan belajar. Siswa yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau instruksional. Hasil belajar pada penelitian ini dapat dilihat pada skor hasil evaluasi siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode Snowball Throwing pada materi bangun ruang sisi datar dengan standar ketuntasan yang telah ditentukan.

2. Hasil belajar pada penelitian ini dikatakan meningkat adalah jika siswa telah mencapai penguasaan individu minimal 60% atau dengan nilai 6,0 sedangkan untuk ketuntasan klasikal mencapai 80%.

3. Metode Snowball Throwing yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah: suatu pembelajaran dengan pendekatan kontekstual yang mengacu pada 3 komponen utama yaitu, inquiry, questioning dan constructivism dimana kelas dibentuk dalam beberapa kelompok (cooperative learning) dan setiap kelompok dituntut untuk melaksanakan investigasi permasalahan yang dihadapi dengan merumuskan sebuah pertanyaan yang ditulis pada selembar kertas yang dibentuk menyerupai bola dan dilempar ke kelompok lain. Kemudian setiap kelompok memberikan hasil investigasi berupa laporan lesan dan tulisan.

A. Hakekat Pembelajaran

1. Pengertian Belajar

Setiap manusia dari awal hingga akhir hidupnya selalu mengalami berbagai proses perkembangan, perkembangan itu sendiri akan cepat mencapai kematangan jika disertai dengan kegiatan belajar. Setiap manusia di mana saja tentu melakukan kegiatan belajar dan kegiatan belajar tersebut dapat terjadi dimana saja, hampir di seluruh aspek. Berbagai macam definisi tentang belajar telah banyak dikemukakan oleh para ahli sesuai dengan persepsi masing-masing, namun demikian secara garis besar berbagai definisi tersebut mempunyai kesamaan pengertian, bahwa belajar merupakan proses perubahan tingkah laku yang terjadi pada seseorang. Perubahan itu dapat terjadi dalam bidang ketrampilan, kebiasaan, sikap, pengertian, pengetahuan atau apresiasi. Dan satu hal yang perlu diingat bahwa belajar itu adalah peristiwa yang terjadi secara sadar (Slameto, 2003:3).

10

Belajar merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenaan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi, baik yang bersifat eksplisit maupun implisit (tersembunyi). Teori-teori yang dikembangkan dalam komponen ini meliputi antara lain teori tentang tujuan pendidikan, organisasi kurikulum, isi kurikulum, dan modul-modul pengembangan kurikulum. Kegiatan atau tingkah laku belajar terdiri dari kegiatan psikhis dan fisis yang saling bekerjasama secara terpadu dan komprehensif integral. Sejalan dengan itu, belajar dapat dipahami sebagai berusaha atau berlatih supaya mendapat suatu kepandaian. Para ahli psikologi dan guru-guru pada umumnya memandang belajar sebagai kelakuan yang berubah, pandangan ini memisahkan pengertian yang tegas antara pengertian proses belajar dengan kegiatan semata-mata bersifat hafalan.

Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks, sebagai tindakan belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Dimyati dan Mudjiono (2006:7) megemukakan siswa adalah penentu terjadinya atau tidak proses belajar. Berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan amat tergantung pada proses belajar dan mengajar yang dialami siswa dan pendidik baik ketika para siswa di sekolah maupun di lingkungan keluarganya sendiri.

Menurut Gagne (1984) dalam Sagala (2009:13) belajar adalah sebagai suatu proses dimana suatu organisma berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman. Sedangkan Garret berpendapat bahwa belajar merupakan proses yang berlangsung dalam jangka waktu lama melalui latihan maupun pengalaman yang membawa kepada perubahan diri dan perubahan cara mereaksi suatu perangsang tertentu. Kemudian Crow mengemukakan belajar ialah upaya untuk memperoleh kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan, dan sikap-sikap. Belajar dikatakan berhasil manakala seseorang mampu mengulangi kembali materi yang telah dipelajarinya, maka belajar seperti ini disebut “rote learning”. Kemudian, jika yang dipelajari itu mampu disampaikan dan diekspresikan dalam bahasa sendiri, maka disebut “overlearning

Belajar merupakan proses perubahan perilaku pada individu melalui kegiatan atau prosedur latihan artinya, belajar bukanlah sekedar mengumpulkan pengetahuan. Belajar adalah proses mental yang terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungannya dengan kesadaran. Dengan demikian belajar bukanlah peristiwa yang dilakukan tanpa sadar, akan tetapi merupakan proses yang dirancang atau disengaja. Oleh karena itu belajar diarahkan untuk mencapai tujuan yang disadari manfaat atau tujuannya oleh setiap individu yang belajar. Belajar bukan hanya sekedar menghafal atau mengembangkan intelektual akan tetapi juga mengembangkan setiap aspek, baik kemampuan kognitif, sikap, emosi, dan kebiasaan. Jadi bisa disimpulkan, bahwa ketika para siswa mengalami perkembangan intelektual, maka aspek-aspek psikologis lainnya turut serta berkembang.

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses aktivitas manusia yang dapat menimbulkan perubahan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang tidak bisa terlepas dari pengalaman atau pengaruh lingkungan yang dialami.

2. Pengertian Pembelajaran

Dewasa ini istilah pengajaran (teaching) bergeser pada istilah pembelajaran. Kata pembelajaran sendiri adalah terjemahan dari intruction yang banyak dipakai dalam dunia pendidikan di Amerika Serikat. Istilah ini banyak dipengaruhi oleh aliran psikologi kognitif-holistik, yang menempatkan siswa sebagai sumber kegiatan (Sanjaya, 2007:73).

Arti dari pembelajaran itu sendiri ialah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidik maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh dua pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid. Konsep pembelajaran menurut Corey dalam Sagala (2009:58) adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu, pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan. Mengajar menurut Burton dalam Sagala (2009:61) adalah upaya memberikan stimulus, bimbingan pengarahan, dan dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar.

Oleh karena itu (Gagne dalam Sagala, 2009) berpendapat: Intruction is asset of event that effect learnes in such away that learning is facilitied, artinya salah satu bagian dari pembelajaran (instruction) adalah mengajar (teaching) dimana peran guru lebih ditekankan kepada bagaimana merancang berbagai sumber yang tersedia untuk digunakan atau dimanfaatkan siswa dalam mempelajari sesuatu. Dengan demikian, kalau istilah pengajaran (teaching) menempatkan guru sebagai pemeran utama, maka dalam pembelajaran (instruction) guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator dan juga mengelola berbagai sumber dan fasilitas untuk dipelajari siswa.

Selanjutnya Knirk dan Gustafon dalam Sagala (2009:64) mengemukakan teknologi pembelajaran melibatkan tiga komponen utama yang saling berinteraksi yaitu guru (pendidik), siswa (peserta didik), dan kurikulum. Komponen tersebut melengkapi struktur dan lingkungan belajar formal. Hal ini menggambarkan bahwa interaksi pendidik dengan peserta didik merupakan inti proses pembelajaran (instructional). Dengan demikian pembelajaran adalah setiap kegiatan yang dirancang oleh guru untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dan nilai yang baru dalam suatu proses yang sistematis melalui tahap rancangan, pelaksanaan, dan evaluasi dalam konteks kegiatan belajar mengajar. Dalam proses pembelajaran itu dikembangkan melalui pola pembelajaran yang menggambarkan kedudukan serta peran pendidik dan peserta didik dalam proses pembelajaran. Guru sebagai sumber belajar, penentu metode belajar, dan juga penilai kemajuan belajar meminta para pendidik untuk menjadikan pembelajaran lebih efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran itu sendiri.

B. Pembelajaran Matematika

Belajar merupakan suatu proses aktivitas manusia yang dapat menimbulkan perubahan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang tidak bisa terlepas dari pengalaman atau pengaruh lingkungan yang dialami, sedangkan pembelajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal (Suherman, 2003:7).

Pembelajaran matematika hendaknya diarahkan untuk membantu siswa dalam berpikir. Dengan berpikir memungkinkan siswa dapat menyelesaikan masalah dengan benar dan benarnya penyelesaian itu bukan karena guru yang mengatakan demikian, tetapi karena penalarannya. Belajar matematika pada hakekatnya adalah belajar yang berkenaan dengan ide-ide dan struktur yang diatur menurut urutan logis. Belajar matematika tidak ada artinya jika hanya dihafalkan saja. Belajar matematika akan bermakna jika siswa mampu mengaitkan pengetahuan baru dengan yang sudah dimiliki. Untuk bisa dikatakan bermakna pemahaman konsep siswa harus baik. Jika hal tersebut dapat dilakukan, maka akan tercapai tujuan pembelajaran matematika.

Tujuan pembelajaran matematika menurut Departemen Pendidikan Nasional (2006:33) yaitu:

1. Memahami konsep/algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam memecahkan masalah.

2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.

3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.

4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan/masalah.

5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupn yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam memecahkan masalah.

Dari tinjauan tujuan di atas dapat diketahui bahwa pembelajaran matematika mempunyai tujuan yang sangat luas. Dengan melatih cara berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, siswa akan terbiasa menganalisis suatu masalah atau hal-hal yang baru dengan tepat, sehingga kesimpulan yang diperolehnya adalah benar. Pengembangan aktivitas kreatif sangat penting dalam meningkatkan mutu pembelajaran matematika. Siswa tidak hanya menerima sesuatu dari gurunya, akan tetapi siswa juga akltif untuk berkreativitas. Dengan belajar matematika, siswa diharapkan mampu memecahkan masalah yang rutin maupun tidak rutin dan mampu berkomunikasi dengan orang lain untuk menyampaikan informasi ide atau gagasannya. Sehingga secara umum, tujuan pembelajaran matematika adalah berusaha mengaktifkan siswa dalam pembelajaran sehingga siswa menjadi kreatif dalam belajar matematika.

Mengingat siswa dan guru bahwa keduanya merupakan subjek dalam pembelajaran, maka dalam pembelajaran matematika guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi pembelajaran yang dapat melibatkan siswa secara aktif. Siswa tidak hanya dituntut aktif dalam mengerjakan soal, tetapi juga perlu mementingkan penalaran siswa dalam proses terbentuknya suatu konsep, sehingga akan memudahkan bagi penerapan konsep tersebut. Dengan kata lain hendaknya guru dapat mengajar secara bermakna dan konstruktivis. Salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk mengembangkan pembelajaran matematika secara bermakna adalah dengan menggunakan metode pembelajaran yang tepat.

 

C. Pendekatan Kontekstual

Pendekatan pembelajaran merupakan jalan yang akan ditempuh oleh guru dan siswa dalam mencapai tujuan instruksional untuk suatu satuan instruksional tertentu. Pendekatan pembelajaran merupakan aktivitas guru dalam memilih kegiatan pembelajaran, apakah guru akan menjelaskan suatu pengajaran dengan materi bidang studi yang sudah tersusun dalam urutan tertentu, ataukah dengan menggunakan materi yang terkait satu dengan lainnya dalam tingkat kedalaman yang berbeda, atau bahkan merupakan materi yang terintegrasi dalam suatu kesatuan multi disiplin ilmu. Pendekatan pembelajaran ini sebagai penjelas untuk mempermudah bagi para guru memberikan pelayanan belajar dan juga mempermudah bagi siswa untuk memahami materi ajar yang disampaikan guru, dengan memelihara suasana pembelajaran yang menyenangkan.

Pendekatan pembelajaran harus menggunakan pendekatan tertentu, tetapi sifatnya lugas dan terencana, artinya memilih pendekatan disesuaikan dengan kebutuhan materi ajar yang dituangkan dalam perencanaan pembelajaran. Adapun pendekatan pembelajaran yang sudah umum dipakai oleh para guru antara lain pendekatan konsep dan proses, deduktif dan induktif, ekspositori dan heuristik, pendekatan kecerdasan serta pendekatan kontekstual.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kontekstual dimana belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat dalam jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan masalah dalam kehidupan jangka panjang. Implementasi kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, bahwa KTSP 2006 memberikan sinyal dalam implementasinya menggunakan strategi dengan menekankan pada aspek kinerja siswa (Contextual Teaching and Learning). Jadi dalam hal ini fungsi dan peranan guru hanya sebagai mediator dan siswa lebih proaktif untuk merumuskan sendiri tentang fenomena yang berkaitan dengan fokus kajian secara kontekstual bukan tekstual.

Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (US. Departement of Education The National School-to-Work Office yang dikutip oleh Blanchard, 2001) dalam Trianto (2007:101). Pendekatan Contextual Teaching and Learning memiliki tujuh komponen utama yaitu: konstruktivisme (constructivism), inkuiri (inquiry), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), penilaian (authentic assesment).

Metode yang peneliti terapkan dalam pembelajaran adalah snowball throwing dimana metode ini menggunakan komponen utama yang terdapat pada pendekatan kontekstual yaitu:

1. Konstruktivisme (Constructivism)

Salah satu landasan teoritik pendidikan modern termasuk Contextual Teaching and Learning adalah teori pembelajaran konstruktivis. Pendekatan ini pada dasarnya menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar lebih diwarnai student centered daripada teacher centered. Sebagian besar waktu proses belajar mengajar berlangsung dengan berbasis pada aktifitas siswa.

Pandangan konstruktivis sangat berbeda dengan pandangan behavioris. Menurut pandangan konstruktivis siswa aktif dalam membangun pengetahuan dan tidak hanya sekedar menerima pasif dari guru (Sanjaya, 2008:118). Menurut Sagala (2009:88) esensi teori konstruktivisme adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain. Dan apabila dikehendaki informasi itu menjadi milik mereka sendiri. Dengan dasar ini pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkontruksi bukan menerima pengetahuan.

Menurut (Hudoyo, 2005:34) pembelajaran matematika dalam pandangan konstruktivis antara lain dicirikan sebagai berikut:

a. Siswa terlibat aktif dalam pembelajarannya. Siswa belajar matematika secara bermakna dengan bekerja dan berfikir.

b. Informasi baru harus dikaitkan dengan informasi lain sehingga menyatu dengan skemata yang dimiliki siswa agar pemahaman terhadap informasi terjadi.

c. Orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan pada dasarnya adalah pemecahan masalah.

 

Ide-ide konstruktivis modern banyak berlandaskan pada teori Vygotsky yang telah digunakan untuk menunjang metode pengajaran yang menekankan pada pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis kegiatan, dan penemuan. Salah satu prinsip kunci yang diturunkan dari teorinya adalah penekanan hakikat sosial dari pembelajaran. Ia mengemukakan bahwa siswa belajar melalui interaksi dengan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu (Slavin, 2000) dalam (Trianto, 2007:107). Berdasarkan teori ini dikembangkanlah pembelajaran kooperatif yaitu siswa lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya. Hal ini sejalan dengan ide Blanchard (2001), bahwa strategi Contextual Teaching and Learning mendorong siswa belajar dari sesama teman dan belajar bersama.

Landasan berpikir kostruktivisme agak berbeda dengan pandangan kaum objektivis, yang lebih menekankan pada hasil pembelajaran. Dalam pandangan konstruktivis, strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan: a)Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa, b)Memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri, c)Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.

2. Inkuiri (Inquiry)

Inkuiri merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkannya.

a. Siklus inkuri terdiri dari:

1) Observasi (observation)

2) Bertanya (questioning)

3) Mengajukan dugaaan (hyphotesis)

4) Pengumpulan data (data gathering)

5) Penyimpulan (conclussion)

b. Langkah-langkah kegiatan inkuiri sebagai berikut:

1) Merumuskan masalah

2) Mengamati atau melakukan observasi

3) Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel dan karya lainnya

4) Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru atau audien yang lain

3. Menyusun Pertanyaan (Questioning)

Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari bertanya. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi keingintahuan individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang untuk berfikir. (Trianto, 2007:110) Kegiatan menyusun atau mengajukan sebuah pertanyaan merupakan salah satu proses berfikir kritis siswa untuk menemukan atau menggali informasi baik secara administrasi maupun akademis, mengecek pemahaman siswa, membangkitkan respon kepada siswa, mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa, memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru, dan menyegarkan kembali pengetahuan siswa.

Pertanyaan spontan yang diajukan siswa dapat digunakan untuk merangsang siswa dalam berdiskusi dengan siswa lain dan dapat digunakan untuk berspekulasi dalam mencari informasi. Sedangkan manfaat pertanyaan yang disusun siswa bagi guru adalah untuk mengetahui sejauh mana rasa ingin tahu dan yang sudah diketahui siswa, memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru dan melatih siswa berfikir kritis (Nurhadi, 2002). Dalam suatu pembelajaran yang produktif kegiatan bertanya akan berguna untuk menggali informasi siswa dalam penguasaan materi pelajaran, membangkitkan motivasi siswa untuk belajar, merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuatu, memfokuskan siswa pada sesuatu yang diinginkan, dan memimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan sesuatu (Sanjaya, 2008:120).

Dalam penyusunan pertanyaan siswa akan lebih nyaman dengan mengidentifikasi tipe pertanyaan dan jawaban mereka dengan teman sekelasnya, hal ini dapat kita artikan dalam kelas siswa terdapat siswa menyusun pertanyaan dan siswa yang menyusun jawabannya.

Dalam Sanjaya (2008:162), kualitas dari pertanyaan dapat dilihat dari 3 ranah yaitu materi (kesesuaian dengan indikator kompetisi), konstruksi (jenis tingkatan pertanyaan) dan bahasa (komunikatif dan tidak mempunyai tafsiran ganda). Orlich (1998) mengatakan bahwa jenis tingkat pertanyaan (Taksonomi Bloom) dapat digunakan dalam merumuskan hasil belajar, mengembangkan berbagai jenis pertanyaan dan latihan belajar serta mengkonstruksikan instrumen evaluasi yang sejajar dengan hasil belajar dan strategi yang diterapkan.

Jenis tingkat pertanyaan membagi menjadi 6 tingkat berdasarkan Taksonomi Bloom, yaitu:

(1) pengetahuan: mengingat hal yang telah dipelajari, (2) pemahaman: kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal-hal yang telah dipelajari, (3) penerapan: kemampuan dalam menerapkan kaidah untuk menghadapi masalah, (4) analisis: kemampuan dalam merinci satu kesatuan dalam bagian-bagian, sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami, (5) sintesis: kemampuan membentuk suatu pola baru dan (6) evaluasi: kemampuan dalam membentuk pendapat tentang hal atau kriteria-kriteria dan nilai-nilai tertentu (Krulik, 2003).

Hampir pada semua aktifitas belajar, dapat menerapkan questioning (bertanya): antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa, antara siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas, dan sebagainya. Aktifitas bertanya juga ditemukan ketika siswa berdiskusi, bekerja dalam kelompok, ketika menemui kesulitan, dan ketika mengamati. Kegiatan tersebut akan menumbuhkan dorongan untuk ‘bertanya’.

Berdasarkan paparan di atas dapat kita simpulkan bahwa questioning dapat meningkatkan kemampuan mengingat siswa dan kemampuan berfikir kritis serta dapat meningkatkan hasil belajar. Pada pembelajaran dengan penajaman ciri questioning ini siswa dituntut untuk dapat menyusun pertanyaan tentang materi yang belum dapat dipahami yang nantinya ditujukan kepada temannya.

 

D. Metode Snowball Throwing

1. Pengertian Snowball Throwing

Selama ini pembelajaran di kelas didominasi oleh pemahaman strukturalis/objektivisme/behaviorisme yang bertujuan siswa mengingat informasi, lalu terjadi memorasi. Pembelajaran dengan metode snowball throwing tidak demikian, dalam hal ini peserta didik diberikan kebebasan untuk membangun atau menciptakan pengetahuan dengan cara mencoba memberi arti pada pengetahuan yang dialaminya. Siswa diberi pemahaman bahwa ilmu pengetahuan adalah suatu yang tidak stabil dan hanya berupa rekaman. Ilmu pengetahuan adalah konstruksi manusia mengalami pengalaman-pengalaman baru yang menyebabkan pengetahuan terus berkembang sesuai perkembangan zaman. Prinsip pembelajaran dengan metode snowball throwing termuat di dalam prinsip pendekatan kooperatif yang didasarkan pada lima prinsip, yaitu prinsip belajar siswa aktif (student active learning), belajar kerjasama (cooperative learning), pembelajaran partisipatorik, mengajar reaktif (reactive teaching), dan pembelajaran yang menyenangkan (joyfull learning).

Pengetahuan tumbuh dan berkembang melalui pengalaman. Pengalaman semakin dalam dan semakin kuat apabila selalu diuji dengan pengalaman baru. Menurut Piaget manusia memilki struktur pengetahuan dalam otaknya, yang masing-masing individu memilki kemampuan yang berbeda-beda. Setiap pengalaman baru (struktur pengetahuan) dihubungkan dan disimpan di dalam otak manusia. Struktur pengetahuan dikembangkan dalam otak manusia melalui dua cara, yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah struktur pengetahuan dibuat atau dibangun atas dasar struktur pengetahuan yang sudah ada. Akomodasi adalah struktur pengetahuan yang sudah ada dimodifikasi untuk menampung dan menyesuaikan dengan pengalaman baru yang diperoleh.

Pembelajaran dengan metode snowball throwing, menggunakan tiga penerapan pembelajaran antara lain: pengetahuan dibangun sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas melalui pengalaman nyata (constructivism), pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri (inquiry), pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari “bertanya” (questioning) dari bertanya siswa dapat menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui. Di dalam metode pembelajaran snowball throwing strategi memperoleh dan pendalaman pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan tersebut.

2. Kelebihan dan kelemahan pembelajaran dengan metode snowball throwing

a. Kelebihan pembelajaran dengan metode snowball throwing

1) Melatih kesiapan siswa dalam merumuskan pertanyaan dengan bersumber pada materi yang diajarkan serta saling memberikan pengetahuan.

2) Siswa lebih memahami dan mengerti secara mendalam tentang materi pelajaran yang dipelajari. Hal ini disebabkan karena siswa mendapat penjelasan dari teman sebaya yang secara khusus disiapkan oleh guru serta mengerahkan penglihatan, pendengaran, menulis dan berbicara mengenai materi yang didiskusikan dalam kelompok.

3) Dapat membangkitkan keberanian siswa dalam mengemukakan pertanyaan kepada teman lain maupun guru.

4) Melatih siswa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh temannya dengan baik.

5) Merangsang siswa mengemukakan pertanyaan sesuai dengan topik yang sedang dibicarakan dalam pelajaran tersebut.

6) Dapat mengurangi rasa takut siswa dalam bertanya kepada teman maupun guru.

7) Siswa akan lebih mengerti makna kerjasama dalam menemukan pemecahan suatu masalah.

8) Siswa akan memahami makna tanggung jawab.

9) Siswa akan lebih bisa menerima keragaman atau heterogenitas suku, sosial, budaya, bakat dan intelegensia.

10) Siswa akan terus termotivasi untuk meningkatkan kemampuannya.

b. Kelemahan pembelajaran dengan metode snowball throwing

1) Terciptanya suasana kelas yang kurang kondusif

2) Adanya siswa yang bergantung pada siswa lain

E. Meningkatkan hasil belajar

1. Pengertian hasil belajar

Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar (Abdurahman dalam jihad, 2008:14). Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Dalam kegiatan pembelajaran atau kegiatan intruksional, biasanya guru menetapkan tujuan belajar. Siswa yang berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau instruksional.

Menurut Sudjana (1990:22), “hasil belajar merupakan kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar”. Menurut Bloom dalam jihad (2009: 14) tiga ranah (domain) hasil belajar yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dapat kita simpulkan bahwa hasil belajar pencapaian bentuk perubahan perilaku yang cenderung menetap dari ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik dari proses belajar yang dilakukan dalam waktu tertentu. Bloom dalam Jihad (2008:14) berpendapat bahwa hasil belajar dapat dikelompokkan ke dalam dua macam yaitu pengetahuan dan ketrampilan.

a. Pengetahuan terdiri dari empat kategori, yaitu:

1) Pengetahuan tentang fakta

2) Pengetahuan tentang prosedural

3) Pengetahuan tentang konsep

4) Pengetahuan tentang prinsip

b. Keterampilan juga terdiri dari empat kategori, yaitu:

1) Keterampilan untuk berfikir atau keterampilan kognitif

2) Keterampilan untuk bertindak atau keterampilan motorik

3) Keterampilan bereaksi atau bersikap

4) Keterampilan berinteraksi

Untuk memperoleh hasil belajar, dilakukan evaluasi atau penilaian yang merupakan cara untuk mengukur tingkat penguasaan siswa. Kemajuan prestasi belajar siswa tidak saja diukur dari tingkat penguasaan ilmu pengetahuan tetapi juga sikap dan keterampilan. Dengan demikian penilaian hasil belajar siswa mencakup segala hal yang dipelajari di sekolah, baik itu pengetahuan, sikap dan keterampilan.

Hasil belajar adalah segala sesuatu yang menjadi milik siswa sebagai akibat dari kegiatan belajar yang dilakukan (Juliah dalam jihad, 2009:15). Hasil belajar diperoleh masing-masing peserta didik berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti dikemukakan oleh Sudjana (2009:39-40) dalam http://susianha.blogspot.com/2009/01/ pembelajaran aktif dengan praktikum.html bahwa “Hasil belajar yang dicapai peserta didik dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor dari dalam diri peserta didik terutama yang dimilikinya dan faktor dari luar peserta didik.

Setiap proses belajar mengajar keberhasilan diukur dari seberapa jauh hasil belajar yang dicapai siswa, disamping di ukur dari segi prosesnya, artinya seberapa jauh tipe hasil belajar yang dimiliki siswa (Sudjana dan Ibrahim dalam Jihad 2008:20). Baik buruknya hasil belajar dapat dilihat dari hasil pengukuran yang berupa evaluasi, selain mengukur hasil belajar penilaian dapat juga ditujukan kepada proses pembelajaran, yaitu untuk mengetahui sejauh mana tingkat keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Semakin baik proses pembelajaran dan keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, maka hasil belajar yang diperoleh siswa akan semakin tinggi sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya.

Hasil belajar pada penelitian ini adalah hasil belajar siswa yang telah dicapai siswa pada mata pelajaran matematika setelah mengalami proses belajar dan dapat dilihat pada skor hasil evaluasi siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode Snowball Throwing pada materi bangun ruang sisi datar (kubus dan balok) dengan standart ketuntasan yang telah ditentukan.

2. Meningkatkan Hasil Belajar

Setiap siswa pada prinsipnya berhak untuk memperoleh peluang untuk mencapai kinerja akademik (academic performance) yang memuaskan. Pengajaran berdasarkan masalah dikembangkan untuk membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan berfikir, pemecahan masalah, dan ketrampilan intelektual (Ibrahim, dalam Trianto, 2007:7). Dalam pengajaran berdasarkan masalah dapat diketahui bahwa seorang siswa mengalami peningkatan belajar apabila siswa tersebut mampu mengembangkan kemampuan berfikir, mampu menentukan cara menyelesaikan masalah, mampu memecahkan masalah, dan memiliki ketrampilan intelektual. Banyak hal yang dapat menyebabkan siswa belum bisa mencapai kinerja akademik atau hasil belajar yang memuaskan. Fenomena kesulitan belajar seorang siswa akan tampak jelas dari menurunnya kinerja akademik atau prestasi belajarnya. Kesulitan belajar juga dapat dibuktikan dengan munculnya kelainan perilaku siswa seperti kesukaan tidak masuk sekolah, berkelahi, mengusik teman. Dalam Slameto (2003:54-72) menyebutkan bahwa secara garis besar, faktor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri dari dua macam yakni:

a. Faktor intern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari dalam diri siswa sendiri. Faktor intern siswa meliputi gangguan atau kekurangmampuan psiko-fisik siswa, yakni:

1) Yang bersifat kognitif (ranah cipta) seperti rendahnya kapasitas intelegensi siswa

2) Yang bersifat afektif (ranah rasa) seperti labilnya emosi dan sikap.

3) Yang bersifat psikomotor (ranah karsa) seperti terganggunya alat-alat indra penglihat dan pendengar (mata dan telinga).

b. Faktor ekstern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar diri siswa. Faktor extern siswa meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktivitas belajar siswa. Faktor lingkungan ini meliputi lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat dan lingkungan sekolah.

Dari pendapat di atas dapat dilihat bahwa rendahnya hasil belajar juga dipengaruhi faktor dari luar diri siswa, lingkungan sekolah juga berpengaruh terhadap tinggi atau rendahnya hasil belajar siswa. Bila sekolah berpengaruh maka guru sebagai pengajar sekaligus pendidik juga mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap tinggi dan rendahnya hasil belajar siswa. Rendahnya hasil belajar siswa dapat dimungkinkan karena pengajar (guru) dalam penyampaian materi pembelajaran kurang memenuhi kebutuhan siswa dengan kata lain siswa tidak bisa mengerti apa yang diajarkan oleh guru, atau metode yang digunakan kurang tepat dengan materi yang diajarkan. Pada dasarnya jika guru menyampaikan konsep atau prinsip baru kepada siswa, maka siswa itu harus dibuat aktif terlibat di dalam menemukan konsep atau prinsip dan bagaimana mengaplikasikannya. Berdasarkan pendapat tersebut dapat dilihat bahwa guru mempunyai peran penting dalam proses pembelajaran. Guru dituntut untuk mampu mengkondisikan dan mengatur kelas sedemikian rupa sehingga suasana pembelajaran matematika menjadi lebih menyenangkan yang pada akhirnya dapat merangsang atau memancing siswa untuk aktif dalam pembelajaran sehingga hasil belajar dapat ditingkatkan.

Meningkatkan hasil belajar adalah meningkatkan hasil dari proses atau cara belajar dengan jalan meningkatkan pembelajaran melalui pengembangan perangkat pembelajaran yang berorentasi pada keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Pada penelitian ini hasil belajar dikatakan meningkat apabila ketuntasan individu mencapai nilai 65, ketuntasan klasikal mencapai 80% dan hasil angket (kuesioner) menunjukkan bahwa 75% siswa sudah memahami.

 

F. Materi Bangun Ruang Sisi Datar (Kubus Dan Balok)

Berdasarkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang dipakai pada peserta didik kelas VIII SMP/MTs bangun ruang yang dibahas adalah Kubus, Balok, Prisma, dan Limas. Dalam penelitian ini lebih dikhususkan lagi mengenai bangun ruang yang dibahas yaitu mengidentifikasi dan membuat jaring-jaring bangun ruang kubus-balok.

Tinjauan materi yang dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Sifat bangun ruang kubus dan balok

a. Kubus

Untuk mengetahui sifat-sifat bangun ruang kubus, mari kita perhatikan gambar di bawah ini.



 

http://www.crayonpedia.org/wiki/images/c/c3/Zx7.jpg

Gambar 2.1

1) Kubus ABCD.EFGH dibatasi bidang ABCD, EFGH, ABFE, DCGH, ADHE, BCGF. Bidang-bidang tersebut disebut sisi-sisi kubus ABCD.EFGH. Jadi, ada 6 sisi pada bangun ruang kubus. Sisi-sisi kubus tersebut berbentuk persegi (bujur sangkar) yang berukuran sama.

2) Rusuk-rusuk pada kubus ABCD.EFGH adalah: rusuk , , , , , , , , , , Jadi, ada 12 rusuk pada bangun ruang kubus. Rusuk-rusuk kubus tersebut mempunyai panjang yang sama.

a) Rusuk-rusuk dan disebut rusuk alas.

b) Rusuk-rusuk ,dan disebut rusuk tegak.

c) Rusuk-rusuk yan sejajar diantaranya // // // .

d) Rusuk-rusuk yang saling berpotongan diantaranya dengan , dengan dan dengan .

e) Rusuk-Rusuk Yang Saling Bersilangan diantaranya dengan , dengan , dan dengan .

3) Titik-titik sudut pada kubus ABCD.EFGH adalah: Titik sudut A, B, C, D, E, F, G, H, Jadi ada 8 titik sudut pada bangun ruang kubus.

Dari uraian di atas, dapat kita tuliskan pengertian bangun ruang kubus sebagai berikut. Kubus adalah sebuah benda ruang yang dibatasi oleh enam buah persegi yang berukuran sama.

b. Balok

http://www.crayonpedia.org/wiki/images/2/20/Zx8.jpg

Gambar 2.2

1) Balok ABCD.EFGH dibatasi oleh bidang ABCD, EFGH, ABFE, DCGH, ADHE, BCGF Jadi, ada 6 sisi pada bangun ruang balok. Sisi ABCD = sisi EFGH Sisi BCFG = sisi ADHE Sisi ABFE = sisi EFGH

2) Rusuk-rusuk pada balok ABCD.EFGH adalah: rusuk , , , , , , , ,, , , Jadi, ada 12 rusuk pada bangun ruang kubus. Rusuk = rusuk = rusuk = rusuk Rusuk = rusuk = rusuk = rusuk Rusuk = rusuk = rusuk = rusuk

3) Titik-titik sudut pada balok ABCD.EFGH adalah: Titik sudut A, B, C, D, E, F, G, H, jadi ada 8 titik sudut pada balok.

Dari uraian di atas, dapat kita tuliskan pengertian bangun ruang kubus sebagai berikut balok adalah sebuah benda ruang yang dibatasi oleh tiga pasang (enam buah) persegi panjang dimana setiap pasang persegi panjang saling sejajar (berhadapan) dan berukuran sama.

Sisi (bidang) adalah setiap\ daerah persegi pada kubus dan daerah persegi panjang pada balok.

Rusuk adalah perpotongan dua buah persegi pada kubus dan persegi panjang pada balok

Titik sudut adalah titik potong antara tiga buah rusuk

c. Mengenal Diagonal Bidang, Diagonal Ruang, dan Bidang Diagonal

1) Diagonal Bidang

Diagonal bidang adalah ruas garis yang menghubungkan dua titik sudut yang berhadapan pada setiap bidang atau sisi kubus atau balok.

Gambar 2.3

2) Diagonal ruang

Diagonal ruang adalah ruas garis yang menghubungkan dua titik sudut yang berhadapan dalam suatu ruang.

Gambar 2.4

3) Bidang diagonal

Bidang diagonal adalah bidang yang dibatasi oleh dua rusuk dan dua diagonal bidang.

Gambar 2.5

d. Identifikasi diagonal bidang, diagonal ruang, dan bidang diagonal pada bangun ruang kubus dan balok.

Kubus

1) Memiliki 12 digonal bidang yang sama panjang diantaranya , , , , , , , , , , dan

2) Memiliki 4 digonal ruang yang sama panjang diantaranya ,, dan .

3) Memiliki 6 bidang diagonal berbentuk persegi panjang yang saling kongruen, diantaranya bidang ACGE, BGHA, AFGD, BEHC, DEFC, dan BFHD.

Balok

1) Memiliki 12 diagonal bidang, diantaranya , , , , , , , , , , dan

2) Memiliki 4 diagonal ruang yang sama panjang dan berpotongan di satu titik, yaitu diagonal , , dan .

3) Memiliki 6 bidang diagonal yang berbentuk persegi panjang dan tiap pasangnya kongruen.keenam bidang diagonal tersebut adalah AFGD, BEHC, AHGB, CFED, ACGE, dan BDHF

2. Membuat jaring-jaring kubus dan balok

Jaring-jaring adalah pembelahan sebuah bangun yang berkaitan sehingga seandainya digabungkan akan menjadi sebuiah bangun ruang tertentu.

a. Jaring-jaring kubus

Image:ruang_6.jpg

Gambar 2.6

Image:ruang_7.jpg

Gambar 2.7

b. Jaring-jaring balok

Image:ruang_13.jpg

Gambar 2.8

Image:ruang_14.jpg

Gambar 2.9

G. Kerangka pembelajaran dengan metode snowball throwing

Metode snowball throwing diharapkan dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran yaitu melalui kegiatan investigation (penyelidikan), inquiry (menemukan), questioning (bertanya), dan constructivism (membangun konsep). Kelompok tersebut menyusun konsep bangun ruang kubus dan balok secara bersama-bersama kemudian mempresentasikan.

Pembelajaran dengan metode snowball throwing ini merupakan tindakan yang dilakukan oleh siswa maupun guru (peneliti) pada saat pembelajaran berlangsung. Kerangka pembelajaran tersebut disajikan dalam bentuk tabel 2.1 berikut:

Tabel 2.1

Kerangka pembelajaran dengan metode Snowball Throwing pada materi bangun ruang sisi datar (kubus dan balok)

Tujuan Pembelajaran

Bentuk Pembelajaran Snowball Throwing

Keterangan

1. Siswa dapat menyebutkan unsur-unsur kubus dan balok (sisi, rusuk, diagonal bidang, diagonal ruang dan bidang diagonal)

2. Siswa dapat mengidentifikasi sifat-sifat kubus dan balok

serta bagian-bagiannya

siswa diarahkan untuk membentuk kelompok menjadi 8 kelompok, setiap kelompok terdiri dari 5-6 anggota.

Investigation dan inquiry: setiap kelompok mendapatkan tugas megidentifikasi sifat bangun ruang kubus dan balok dengan mengamati media yang telah disediakan guru/peneliti serta memberikan pernyataan terhadap tugas tersebut.

Questioning:. menyusun pertanyaan dan menjawab pertanyaan dari kelompok lain

Constructivism: siswa melempar kertas yang sudah dibentuk menyerupai bola ke kelompok lain, satu siswa mendapat satu pertanyaan/bola.Siswa menjawab pertanyaan,

dan dari pertanyaan yang dikemukakan temannya tersusun sifat bangun ruang kubus dan balok.

Guru (dalam hal ini peneliti) pada awal kegiatan pembelajran memotivasi siswa sesuai dengan pokok bahasan dan

menanyakan benda-benda di sekitar yang berbentuk kubus dan balok,serta mengarahkan siswa untuk mengetahui ciri-ciri bangun ruang tersebut.

Guru/peneliti memanggil ketua kelompok untuk diberikan penjelasan tentang pengertian dan sifat bangun ruang kubus dan balok yang nantinya akan mereka jelaskan kepada teman satu kelompoknya.

Masing-masing kelompok diberikan satu lembar kerja untuk menuliskan pertanyaan dari materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok, guru/peneliti sebagai fasilitator.

Guru/peneliti sebagai fasilitator dan evaluator yaitu memberikan kesimpulan terhadap apa yang telah disampaikan oleh masing-masing kelompok yaitu mengenai pengertian dan sifat bangun ruang kubus dan balok.

1. Siswa dapat mengidentifikasi jaring-jaring kubus dan balok

2. Siswa dapat membuat jaring-jaring kubus dan balok

Cooperative learning: siswa diarahkan untuk membentuk kelompok menjadi 8 kelompok, setiap kelompok terdiri dari 5-6 anggota.

Investigation dan inquiry: setiap kelompok mendapatkan tugas mengidentifikasi dan membuat jaring-jaring kubus dan balok dengan mengamati media yang telah disediakan guru/peneliti serta memberikan pernyataan terhadap tugas tersebut.

Questioning:. Menyusun pertanyaan dan menjawab pertanyaan dari kelompok lain

Constructivism:Siswa melempar kertas yang sudah dibentuk menyerupai bola ke kelompok lain, satu siswa mendapat satu pertanyaan/bola.Siswa menjawab pertanyaan,

dan dari pertanyaan yang dikemukakan temannya tersusun jaring-jaring bangun ruang kubus dan balok.

Guru (dalam hal ini peneliti) pada awal kegiatan review pertemuan sebelumnya untuk mengingat unsur-unsur bangun ruang kubus dan balok.

Guru/peneliti memanggil ketua kelompok untuk diberikan penjelasan tentang jaring-jaring bangun ruang kubus dan balok yang nantinya akan mereka jelaskan kepada teman satu kelompoknya.

Masing-masing kelompok diberikan satu lembar kerja untuk menuliskan pertanyaan dari materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok, guru/peneliti sebagai fasilitator.

Guru/peneliti sebagai fasilitator dan evaluator yaitu memberikan kesimpulan terhadap apa yang telah disampaikan oleh masing-masing kelompok yaitu mengenai jaring-jaring bangun ruang kubus dan balok.

 

 

Last Updated ( Thursday, 04 September 2014 01:23 )
 

Comments  

 
0 #15 hartono 2014-12-16 18:24
:-? menarik untuk di coba, trim..
Quote
 
 
+1 #14 http://pharmpdf.com/ 2014-04-03 17:13
I am really thankful to the holder of this web page who has shared this wonderful
article at here.
Quote
 
 
+1 #13 http://pharmpdf.com/ 2014-04-02 01:33
Thanks to my father who told me concerning this web site, this webpage
is truly awesome.
Quote
 
 
+2 #12 frida 2014-01-21 12:40
assalamualaikum bu..
spt tman2 yg lain kbetulan sya jg memilih snowball throwing utk ptk bu. kalau diizinkan blh tdk sya diberi daftar tinjauan pustkanya bu..
trm kasih sblmnya :-)
wassalamualaiku m ..
Quote
 
 
+1 #11 fitry 2013-05-14 11:55
ass.wr.wb.
bue,,skripsi sya berkaitan dgn artkel yang ibu tulis,,yg brkaitan dgn snowball throwing.sy btuh bku yg ibu tulis ,,,
kra2 dpt ,,sya dptkan dmn y bue?trims .
Quote
 
 
+1 #10 victor 2013-04-24 02:02
trims bu..sangat bermanfaatt
Quote
 
 
+4 #9 Elen Nofiana 2013-03-28 02:49
Saya boleh minta daftar tinjauan pustaka?soalnya penetian saya membandingkan 2 model pembelajaran salah satunya snowball throwing...
terima kasih
Quote
 
 
+1 #8 Sindy 2013-01-22 08:43
ass ibu...
bolehkah saya minta buku2 referensinya?
krn proposal saya berhubungan dgn metode ini...
mohon bantuannya ya bu...
trims :-)
Quote
 
 
+1 #7 Neny AlishaZahra 2012-12-29 15:50
assalamualaikum .wr. wb
makasi tas artikel ya...
karena berhubung proposal saya berhungan dengan snowball throwing maka terbantu dengan ada artikel ini..
wassalamualaiku m .wr.wb
:lol: :lol:
Quote
 
 
-3 #6 aii 2012-11-26 15:13
aku minta judul" buku yang dipake di artikel tentang snowball trhowing donk :roll:
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh